Tampilkan postingan dengan label Gambar Bercerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gambar Bercerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 September 2017

Gugur Tak Bermusim

Dariku, anak perempuanmu yang kau tinggalkan.
Yang mati-matian berjuang bangkit dengan dunia yang pincang.

Ini hari ke dua, engkau pergi. Beristirahat dengan tenang di sana bersama ribuan malaikat tentunya😍
Ini aku Pak, anak perempuanmu yang tidak bisa menyentuhmu untuk terakhir kali, yang tidak bisa menemani masa sulitmu ketika engkau akan berpamitan pada dunia😓

Gugurmu tidak akan bermusim😗

Musim gugur ini, menggugurkan 1 malaikatku dan duniaku terbelah, memincang ....😓

Ini dari anakmu Pak ....😊
Yang masih di negeri orang. Yang selalu dianggap SALAH di mata-mata manusia penjilat di luar sana. Meski aku tahu, Bapak pasti tidak setuju atas tuduhan 'salah' itu, dan Bapak pasti membela aku.Tapi mungkin memang aku salah, tapi apa iya manusia tahu rahasia Allah. Apa iya aku harus salah? Apa iya KARENA aku? Bukan kan, Pak?😢

Dariku, anak gadismu yang sedang merindu, tanpa kau mau menunggu pulangku, bahkan tak mau menunggu masa-masa di mana nanti menjadi wali dan saksi atas pernikahanku.

Ya, pernikahan😉

Aku pasti akan iri pada teman-temanku yang punya photo photo indah waktu mereka sungkem pada ayah dan ibu di pernikahannya.

Lalu aku, Pak?😭

Aku bukan membahas ilmu keikhlasan, namun sedang berjuang untuk menelan ribuan sakit, mengunyah jutaan tuduhan yang tidak masuk akal, dari para mulut sialan yang mencuat tanpa dosa di luar sana😒

Mereka hanya mampu melihat, menghujat, tanpa mau tahu jalan cerita yang sedang dibuat. Orang lain hanya ingin yang dipandang sempurna, tanpa paham dirinya sangat hina. Mereka hidup seperti tak akan mati saja😏

Ini aku, anak perempuanmu yang sendirian ....😭
Yang sedang berdebat dengan musim gugur, lebih sakit mana gugurnya nyawa dengan gugurnya daun maple di musim ini?

Dan gugurmu tetap tak bermusim, Pak😗

Aku, anakmu yang sendirian di negeri orang, menahan jutaan rasa yang tak mampu lagi aku ketik-kan di sini.
Puluhan pesan, belasan hujatan datang dari para pecundang di sana. Nyinyir tentang hidup kita. Tapi Bapak tidak perlu khawatir, masih ada Kakak lelaki yang akan menjadi pengganti, ia yang akan melindungi, menjaga dan tanggung jawab pada hidupku, sebelum aku melepas masa lajang ini. Walau kadang, dia tidak mempunyai sisi kelembutan sama sekali😉😉😉
Bapak harus istirahat, dan aku? Akan baik-baik saja😙

Aku akan mulai bangkit dari rasa sakit yang mencabik-cabik. Aku berjuang tegar dari apa yang telah membuat duniaku terkapar😍

Duniaku terbelah sudah ....😓

Namun aku adalah anak perempuanmu yang selalu tabah.

Berjuang ikhlas, ternyata lebih sukar dari pada berjuang melepaskan.
Tapi berusaha ikhlas.

Kematian bukan akhir😊
Sama halnya dengan kelahiran. Semua adalah proses, semua adalah perjalanan. Dan Bapak akan tetap hidup, semua hanya karena tempat, yang membedakan. Namun bagiku Bapak tetap ada di sini ....😗

Tidurlah ... dan mimpi yang indah.
Doa-doa dari anakmu adalah penerang dalam tidur panjangmu ....
Dan aku? Nanti akan menyusul, semua hanya karena waktu😊😗😗

Taipei, 23 Sept 2017

Senin, 26 Desember 2016

Jika Hidup Adalah Pilihan

Kalau kamu tidak ditakdirkan untuk memilih?
Mungkin kamu adalah yang terpilih.

Pernah dulu, aku selalu mempercayai jika hidup adalah pilihan. Namun, sejak apa yang aku pilih selalu hilang? Sejak itu pula aku lebih percaya jika hidup cuma untuk dijalani, dan disyukuri. Bukan dipilihi.

Mungkin terkadang aku dan puluhan orang di luar sana bersikap egois. Memilih apa yang dimau, padahal belum tentu itu yang terbaik. Jika kita tidak dilahirkan menjadi pemilih, mungkin kita dijadikan sebagai yang terpilih. Sebaik apa pun pilihan kita, bisa jadi itu yang terburuk untuk kita.

Lalu, bahagia mana antara yang memilih dan terpilih?

Sama rata.

Karena, akan ada masa di mana kita memang tidak digariskan untuk memilih, namun cukup menerima.
Bahagia?
Entahlah, karena jika aku pun boleh memilih, aku tidak mau menjadi yang terpilih, namun menjadi yang memilih. Namun sayang, hidup tak segampang itu. Karena dunia tidak bercerita tentang perasaan dan keinginanku saja.

Berusaha bersyukur.
Cuma itu yang mampu membuat aku kuat. Ketika apa yang kupilih, hilang tanpa alasan.

Taipei, 27 Desember 2016

Sabtu, 03 Desember 2016

Dusta Secangkir Kopi

Berdusta demi kejujuran? Hmm  ... lalu di mana letak jujur yang sesungguhnya?
Berbicara tentang kejujuran, tidak ada manusia yang benar-benar jujur. Jujur yang jujur adalah ketika kalian menengadahkan tangan ke langit dan butir-butir air mata itu berjatuhan, dan kalian menyebut asmaNya. Di sanalah jujur terbentuk.

Dalam kehidupan, kalian tidak akan mampu menemukan apa itu jujur dan di mana jujur. Tidak akan.
Bahkan jujur tak akan kalian temukan pada secangkir kopi hitam yang pahit. Ia memang jujur, jika pahit dan dirinya tak mampu dipisahkan. Tetapi apakah kalian tahu? Di sana tidak ada rasa pahit sama sekali. Karena yang ada adalah nikmat. Lalu? Apakah benar jika secangkir kopi pun mampu berdusta?
Layaknya para pendusta di luar sana, mendekati hidup orang lain, hanya untuk bermain-main. Parahnya manusia menggunakan perasaan untuk permainan itu. Lalu? Hilang, membias tanpa bekas. Pengecut, bukan?

Manusia ababil, memang lebih suka bermain. Bermain dengan perasaan yang akan berakhir kekecewaan, permusuhan, dan sakit yang entah dengan kalimat apa mampu aku tuliskan. Coba kalian bandingkan, pahit mana perasaan kalian saat dikecewakan dengan pahit secangkir kopi murni hitam. Jawabnya adalah sama.

Kopi selalu punya sisi untuk berteriak mengatakan dirinya nikmat. Namun pahitnya kehidupan juga punya hak berteriak jika pahit ini akan seperti obat, menyembuhkan dan membawa kebaikan.
Kebaikan?
Kebaikan mana? Entahlah.

Kopi tetaplah kopi, dusta tetap disandangnya selama ia mengandung rasa pahit dalam tiap teguknya.

Taipei, 03 Desember 2016

Rabu, 23 November 2016

Bapak

"Tentang perjalanan, di mana lagi tidak berjalan. Juga tentang rasa di mana rasa tak dapat lagi kurasa. Yang di mana kini aku menemukan satu titik semu itu. Dan pulang, adalah jalan terakhirku."

Senja kembali berpamitan, menyisakan warna keemasan di kaki langit. Aku dan secangkir kopi ini, menjadi saksi datangnya malam yang pekat. Sepekat ampas kopi pahit dalam cangkir merahku. Sendiri, kunikmati hidup. Bahagia yang aku rasa.
Benarkah? Entahlah.
Kuraih HPku dan kucoba telepon bapak. Bapak selalu punya cerita tentang senja, tentang langit dan bintang. Entah, petang ini bapak akan bercerita tentang apa.

"Tumben, Nak. Kamu terlambat telepon bapak, bukankah senja sudah pergi?"

"Iya, Pak. Sepertinya aku bosan dengan senja. Pak, bisakah bapak ceritakan apapun yang bapak rasa sekarang."

"Apakah kamu mau mendengar, Nak?"

"Pasti."

"Bapak ingin kamu pulang dan ...."

Hening.

Hanya suara napas bapak di balik HPku. Nafas yang mulai berat, mungkin karena nikotin yang meracuni kesehatannya. Entah kenapa malam ini cerita bapak beda.
Pulang?
Ah, entahlah. Sejauh ini aku tidak pernah merasa ada yang peduli dengan pergiku. Sepuluh tahun dua bulan, dua puluh satu hari aku pergi. Aku merasa biasa saja.

"Nak, apakah kamu masih mendengar?"

"Masih, Pak."

"Pulanglah, Nak. Jangan hanya mengejar keperluan duniamu. Kejar juga bekal akhiratmu. Berapa kali kamu tidak merasakan ramadhan, lebaran di rumah? Sepuluh kali, bukan? Mau cari apa lagi? Apakah kamu takut kelaparan di kampungmu sendiri? Apakah kamu takut tidak ada rejeki di negara sendiri? Percayalah, Nak. Di mana ada kehidupan, di sana ada sandang dan pangan. Allah Maha Kaya, Dia tidak akan membiarkan makhluknya makan tanah. Paham?"

"Tapi, Pak ..., aku ...."

"Apa? Tidak betah di rumahmu sendiri? Mau sampai kapan?"

"Pak ..., bapak ..., bukan itu ...."

"L-a-l-u ...," bapak secepat kilat menimpali alasanku.

"Anu, Pak ...."

Dan bapak tidak akan paham. Tentang arti pergiku. Bukan ragu atas kebesaran Dia Yang Maha Satu, sama sekali bukan. Tapi tentang rasa di mana rasa tak dapat lagi terasa. Tentang perjalanan, di mana lagi tidak berjalan. Yang di mana kini aku menemukan satu titik semu itu. Dan pulang, adalah jalan terakhirku.
Mungkin.

Taoyuan, 24 November 2015
________________________

Senin, 06 Juni 2016

AYAH

Jika kalian menawarkan sebuah kemustahilan dan keajaiban. Aku akan meminta agar waktu diputar mundur. Waktu di mana luka di kaki lebih sakit dari pada luka di hati. Waktu di mana aku setiap malam masih tidur di dalam dekapan ayah.

Ayahku sosok lelaki sempurna di mataku. Kegigihannya menafkahi keluarga patut aku banggakan, meskipun pada akhirnya ia letih dengan takdir Illahi, dan aku harus pergi. Ya, aku pergi. Memunguti pundi-pundi dolar di negeri orang.
Ketika ayah bertanya, "bahagikah aku di sini?" Aku akan tetap tertawa renyah di balik telpon genggamku dan berkata dengan lantang, "sangat bahagia" dan ayah pun tertawa terkekeh-kekeh. Andai ayah tahu, jiwaku ingin pulang, memeluk ayah setiap malam, menyeduhkan secangkir kopi pahit setiap pagi. Tapi semua hanya sebatas mimpi.

"Nak, kamu tidak ingin menikah?"

"Menikah? Ehm ... iya, Yah."

"Ditanya kok bilang iya, gimana?"

"Ya, setiap orang pasti ingin menikah, Yah. Tapi, bukankah ayah yang dulu bilang, hidup mati, jodoh dan rejeki itu dari Allah. Kita sebagai umat-Nya hanya mampu berusaha dan berdoa," jawabku.

"Maafkan ayah, ya. Ayah tidak mampu menjadi kepala keluarga yang baik, yang seharusnya mampu menghidupimu sampai ayah lepas tanggung jawab saat pernikahanmu nanti."

"Ayah ini bicara apa? Aku bahagia, sangat bahagia," kataku lirih.

Suaraku terhenti di kerongkongan, sakit.

Jika hati boleh jujur, aku ingin pulang. Ya, pulang. Tapi sayang, jalan kehidupan yang tetap menahanku di sini, di negeri orang. Tapi aku janji pada diri sendiri, apapun keadaanku di sini, adalah pilihan hidupku. Ayah hanya berhak mendengar kabar baik dariku. Selebihnya, hanya aku dan Tuhan yang tahu. Karena terkadang, kejujuran hati tidak harus dikatakan jika akan menyakitkan. Selama kita mampu memendam rasa itu, disimpan dan diam mungkin lebih baik.

Mungkin, aku adalah satu dari ribuan anak yang sedang merindukan sosok ayah pagi ini. Jika esok matahari mampu kulihat kembali? Aku ingin berteriak pada alam, pada dunia, jika aku bahagia. Agar teriakanku didengar ayah, lewat jeritan alam yang setiap detik waktu berdendang dalam kebisuan.

"Ayah, apapun keadaanku di sini. Bahagiamu adalah impianku."

Hanya kata-kata itu yang mampu membuatku semangat. Aku tahu ayahku kini menua, lapuk dalam ketidakberdayaan. Hanya ibu yang setia di sampingnya. Menyeduhkan kopi dan memberinya singkong rebus setiap pagi.
Dan jika aku adalah bintang, aku akan selalu ada di awan. Bersinar, dan terang apapun yang terjadi. Dan itu alasan ayah memberiku nama Bintang.

Jassy Ae

Taipei, 06 Juni 2016

Rabu, 27 April 2016

Dimensi Waktu

Aku pernah menjadi senja, saat awan memandangku penuh makna. Dan langit pun terkesima. Aku pun pernah menjadi bintang, saat malam datang aku adalah cahaya. Cahaya dalam gelap yang pekat. Aku pernah kau sebut sebagai rembulan. Dulu.
Kehadirannya ada dalam ketiadaan. Perginya hilang dalam ketidaktahuan. Aku menyebutnya pun senja ....
Senja yang cuma hadir dalam waktu yang singkat. Waktu di mana aku akan berubah menjadi cahaya dalam gelap.

Dimensi waktu yang tak mungkin aku perlambat pun percepat. Jika alam mampu menawarkanku pilihan, aku ingin menjelma menjadi langit. Mampu bertemu senja, dan bintang. Pelita ini tak akan ada arti, selama senja selalu berada dalam dunia bawah mimpi.

Sayap cahaya membentang di antara ribuan bintang. Menembus lapisan kelopak alam di bawah alam mimpi. Senja singgah untuk punah, di antara lapisan langit yang megah. Menjulang di antara mimpi dan nyata dan menjadikanku setitik bintang dalam kebodohan.
Lalu bait ini dinamakan apa?
Kalimat ini berarti apa? Jika ketiadaan selalu menjadi keabadian dan kehadiran selalu diasingkan.
Paragraf hidup mengajariku menghargai kuman yang kasat mata. Apalagi senja yang mampu ada lebih dari enam puluh menit. Sungguh itu berharga, yang mampu menjembatani rinduku pada bintang. Bintang yang terang, yang dulu mampu menjadi dian dalam serambi hati. Kala aku dalam ketiadaan.

Taipei, 20 April 2016


Rabu, 23 Desember 2015

Hujan Itu

Satu hal yang aku harus belajar dari hujan. Ia jatuh, tanpa meminta, ia jatuh tanpa mengeluh. Di mana pun ia terjatuh? Ia akan pasrah dan ikhlas. Walaupun kadang terjatuh dalam parit, hutan, laut bahkan di atas batu yang keras. Terhantam dari ketinggian yang entah. Dia tetap turun, lagi dan lagi. Dan tetap tegar, anggun dan indah. Walaupun terkadang pelangi ingkar janji pada hujan. Tapi hujan tak pernah enggan untuk turun dan turun.

Aku melangkah lagi di antara jatuhnya hujan dalam diam. Dulu aku takut dengan hujan, dan kamu tahu itu. Sempat kamu tertawa tentang pengakuanku yang takut pada hujan, pada petir dan pada gelap. Kamu selalu menyuruhku masuk selimut, sembunyi dan tidur agar lelap.

Untukmu yang pernah kedinginan di stasiun kota demi menunggu pagi, menunggu menit kita bersua kembali. Senyum hello kitty itu masih ada kini, menjinjing seikat harap dan asa dulu, yang berjalan di atas nama janji. Melangkah di atas nama ikrar. Kamu tahu apa itu janji? Hutang, bukan? Oh bukan. Biarlah orang lain bilang janji adalah hutang, tapi bagiku, janji adalah barisan kata yang terangkai setengah sadar.

Untukmu yang pernah berlari di antara gelap dan hujan, salah jalan dan kedinginan hanya untuk meminta maaf padaku. Atas setitik salahmu dulu. Peluh keringat dan air hujan menyatu, saat itu aku melihat seribu malaikat bersamamu. Kau istimewa. Dan nyata.

Untukmu yang rela jadi santapan nyamuk malam. Terbaring di antara gelap rumput taman. Langit kau bilang rumah, dan lampu malam kau bilang kunang-kunang.

Tahukah kau malam ....
Saat ini dia dalam garis kegamangan. Antara masa lalu dan masa depan. Wahai malam ..., sapukan embusan bayu pada jiwanya yang layu. Agar ia bangkit dari rasa sakit. Agar dia tersadar yang telah meragukan Allah Yang Maha Besar.

Hujan ....
Bukan hal yang aku takutkan lagi. Percayalah, aku tidak takut. Hujan kini adalah teman. Petir adalah kawan, dan gelap adalah sahabat ketika aku akan terlelap.

Untukmu yang selalu bertanya kabar. Yang khawatir ketika datang petir. Nikmatilah hujan, seperti dulu. Tak usah kau takut akan basah, karena setelah hujan berlalu, kau akan paham apa arti kilatan petir malam itu.

Taoyuan, 23 Desember 2015

Minggu, 22 November 2015

Mimpi

Setiap manusia yang lahir, pasti punya mimpi, cita-cita, harapan dan impian.
Tergantung diri sendiri, mau diolah seperti apa mimpi itu.
Ada yang berjuang mati-matian, tak kenal putus asa walaupun sakit merintih, pedih.
Ada juga yang berjalan pelan, penuh kepastian dan percaya akan sebuah proses.
Tapi ada juga yang diam, berpangku tangan, menyerah pada keadaan dan selalu merasa jika mimpi hanya sebatas angan.
Dan aku?
Mungkin akan mempunyai pilihan yang terakhir. Bukan aku munafik atau licik.
Karena akan ada masa di mana aku telah lelah, tertatih untuk melangkah. Sementara akan ada seseorang yang puas dengan keadaan ini.

Aku pernah dibawa terbang.
Ketika sayap-sayapku mulai aku kepakkan, mulai mempunyai seberkas harap. Badai itu datang, mendorong kuat-kuat paruhku dan aku terjatuh. Jatuh dan jatuh. Sayap ini patah. Kaki ini terkilir, perih. Satu kali, dua kali bahkan sembilan puluh delapan kali, aku berusaha bangkit. Tapi aku gagal. Tidak ada yang membantuku, mereka pergi terbang dengan anggun. Tak acuh.
Aku bertepuk tangan dengan airmataku, aku bersorak dengan pedihku. Mereka adalah yang terhebat.

Aku masih terperangkap sepi. Terperangkap dalam tempat di mana sayapku gagal aku gerakkan. Aku tidak mau terbang lagi. Aku takut ketinggian. Aku trauma dengan ketinggian. Aku juga tidak butuh belas kasihan dari teman, aku juga tidak butuh rasa simpati dari kawan. Dalam sepiku aku menikmati, dalam gelapku aku berusaha memaksa bibirku tersenyum, walaupun tidak ada yang melihat. Biarkan para malaikat yang melihat.
Entah sampai kapan, berpangku tangan dalam rasa tak berdaya ini.

Taiwan, 22 November 2015

Kamis, 10 September 2015

Jalan Pulang

Jika aku diijinkan sebentar saja untuk berubah wujud? Aku akan memilih menjadi seekor burung hantu. Ya, burung hantu.
Aku tenang dalam kegelapan, aku damai dalam sepi, sendiri. Hanya deretan buku-buku usang yang memaksaku tersenyum setiap menit, bahkan detik. Tersenyum sendiri. Gila? Ya, hampir.

Aku gila oleh bayangan, gila oleh waktu. Aku lupa waktu senja datang, hingga ketika aku memotretnya, senja beranjak pergi.

"Kamu terlalu malam, Ru. Senja telah berpamitan, pulang," kata ayah dengan nada datar.

"Pulang? Ke mana, Yah?"

"Ke tempat di mana seharusnya pulang."

Aku mengernyitkan dahi.
Kupandang ayah lekat-lekat. Ayah diam, curang. Tidak menjelaskan apa maksudnya.

"Bukankah kamu sering berkhayal, jika senja di sana kau ibaratkan cinta. Nah, tadi ayah bilang, senja pulang, ke tempat di mana dia harus pulang. Pun dengan cinta, Ru, cinta akan pulang di mana tempat dia pulang, karena cinta akan tetap tahu jalan pulang," ucap ayah menjelaskan sambil mengacak anak rambutku dan pergi.

Aku terlambat.
Terlambat memeluk senja. Menikmati dan memotretnya. Apakah aku harus selalu menjadi burung hantu? Agar aku tahu di mana senja kini? Agar aku tahu betapa nikmatnya dunia alam dalam kegelapan.

Tidak.
Aku tetap aku, tidak akan aku menjadi seekor burung.
Biarpun aku harus kehilangan senja? Tak mengapa. Bukankah ayah selalu bilang jika senja akan pulang ke tempat di mana ia akan pulang.

Senja, aku rindu.
Ada rindu di sini, yang menguat dalam doa malam.

Taoyuan, 10 September 2015

Minggu, 06 September 2015

Luka

Senyum, terkadang adalah topeng kehidupan yang nyata. Terkadang hanya polesan jiwa yang berduka. Tetap tegar di atas penderitaan hidup dan tetap anggun menjalani kehidupan.
Senyum, terkadang adalah tipuan mata. Hanya hati yang peka yang mampu meraba sebuah senyuman. Nyata atau rekayasa.

Hati mungkin tidak pernah berbohong, mungkin. Tapi senyum dan tawa adalah cara sebagian manusia mempertahankan diri dari dekapan lara, luka, kecewa, sakit hati dan sejuta rasa. Tidak semua senyum dan tawa adalah gambaran bahagia. Tidak semua tangisan adalah lara. Terkadang dalam senyum ada airmata, dalam tangisan ada bahagia.

Tetap tersenyum apapun yang terjadi. Berteriaklah pada dunia, jika kita adalah wanita tegar dari segala duka yang datang. Tetap tersenyum, walaupun kadang luka datang menyapa, sakit datang menghimpit. Nikmatilah hidup sesuai porsi masing-masing.

Taoyuan, 06 September 2015




Jumat, 28 Agustus 2015

Diam

Jika manusia selalu merasa kesepian saat sedang sendiri? Tolong katakan padaku, apakah keramaian selalu membahagiakanmu?

Aku memang sendiri, menepi di perut bumi. Sendiri dalam keramaian. Merangkak sendiri, berdiam diri penuh kesibukan walaupun kadang sepi itu datang. Aku memang sendiri, tapi aku tidak sendirian. Aku bukan wanita manja yang harus selalu berdampingan dengan orang lain. Aku bukan benalu yang harus hidup menumpang kasih sayang dari orang lain.

Aku terbiasa sendirian. Pun sebelum kau datang. Sebelum dia hadir. Aku tetap aku. Aku memang sendiri, bermain dengan sepi dan sejuta mimpi. Aku memang sendiri, tapi aku jauh dari kata kesepian.
Karena dalam keramaian aku kesepian dan itu selalu menyiksa. Tapi dalam sepi, aku ramai penuh kebahagiaan.

Bahagia bukan soal di mana kamu berada. Tapi tentang bagaimana kamu bersyukur pada apa yang telah ada.
Diam, adalah cara terbaik melindungi diri. Diam adalah jawaban terbaik ketika kau dikejar hal yang tak sepantasnya kamu jelaskan. Diam adalah jalan akhir ketika semua orang menganggapmu sakit jiwa. Dan diam adalah cara kita membalas caci maki orang lain.

Pastikan dalam diam mulut kita, raga kita dan otak kita bergerak.

Taoyuan, 28 Agustus 2015

Selasa, 25 Agustus 2015

Kaca Bukan Cermin

Kutemani kau sekarang, berjalan berdampingan. Kudukung semua jalanmu selama masih dalam kebenaran. Doa dan semangat selalu kubisikkan agar kau jadi lelaki mapan.

Jika hidupmu sudah tentram, nyaman dan mapan. Aku akan pergi meninggalkan. Bukan tanpa alasan. Karena aku yakin cermin dan kaca itu beda jika diartikan. Antara bayangan dan pantulan pun juga berbeda. Kau hidup dalam cermin dan aku dalam kaca. Tapi semua adalah bias, asa dan kandas.

Kini kita adalah butiran bening di atas kaca. Jernih, terang, indah.

Kusimpan rindu dalam tiap butir tasbih cinta. Kukemasi sayang dalam doa malam. Sampai saat itu tiba, kita menganggukkan kepala dan bilang selamat jalan cinta. Tiada dendam dan benci. Karena kita adalah seuntai tali yang telah terpatri. Dan tak akan pernah putus karena rasa kita adalah tulus.

Taoyuan, 26 Agustus 2015

Minggu, 23 Agustus 2015

Senja Telah Pulang

Aku di sini. Tanpamu.
Memilih diam dan memeluk erat potretmu. Ditemani senja yang mulai ditelan petang. Mulai berubah menjadi hitam, kelam dan gelap. Di sini aku tenang, potretmu nampak menyunggingkan senyum penuh keikhlasan. Kau adalah pengganti senja yang kelam. Bercahaya dan membaur menyatu dengan alam. Potretmu adalah simbol alam.

Aku ingin seperti senja, biarpun hadirku hanya sekejab tapi aku dirindukan banyak orang.

"Apakah kau juga rindu?"

Aku tidak perlu jawaban. Tatapan matamu yang teduh cukup menggambarkan. Bukankah segala kejujuran dan kebohongan ada pada pandangan?

"Kata siapa?"

"Kata hati."

Kita adalah alam, belajar menyatukan dua perbedaan. Merangkai nada demi nada hingga kita punya sebuah melody. Yang akan kita dengungkan, untuk alam, untuk dunia. Kita teriakkan pada alam. Pada bumi dan langit, jika perbedaan itu indah. Ibarat sebuah piano dan nada-nadanya. Ia tidak akan berirama jika hanya punya satu nada, dan ia tidak akan dinamakan piano jika cuma warna hitam saja.

Hitam dan putihnya piano adalah gambaran, satuan perbedaan yang menghasilkan irama. Kita adalah melody.

Senja telah pergi, meninggalkan hitamnya mendung yang menggantung di ujung sana. Seperti kamu.

Kulipat kembali potretmu, kubawa dalam tanjakan jalan hidupku, dan terjalnya perjalanan. Kau adalah putih dalam hitamnya pianoku. Kau adalah senja yang selalu kunanti setiap petang datang.

Senja telah pulang.

Taoyuan, 23 Agustus 2015

Kamis, 20 Agustus 2015

Ketika Aku Pergi

Cemas, khawatir adalah fitrah manusia. Wajar, bukan?
Takut. Adalah benang merah yang menarik alur cerita yang telah aku rengkuh. Aku pernah menaruh harapan besar pada manusia, tapi akhirnya kecewa yang kudapati, sakit, perih dan menahan luka.

Aku adalah pohon yang rapuh, berdiri kokoh di antara gemerlap dunia, menopang segala rasa yang mampir menyapa jiwa. Aku tidak sendirian. Ada sejuta asa yang kadang mendekapku erat dari penjuru dunia, aku dan sisi lain.

Harap, asa kadang hanya hadir menyapa jiwa. Mencubit jiwa yang kadang merapuh. Menyentuh harap yang mulai mengepul berubah jadi jelaga. Terbang tinggi diembus bayu dan lenyap.

Aku adalah kunang-kunang malam tanpa cahaya. Gelap, hitam pekat tak tahu arah pulang. Diam dan berteduh di bawah pohon cemara, menunggu pagi, menunggumu datang membawa sepercik cahaya. Jangan bawa aku pulang, jangan bawa aku pergi ketika sayapku belum sembuh, ketika sayapku belum ada cahaya. Aku tak tahu, di mana aku kini.

Malam belum menjemput fajar, malam belum berakhir. Tapi aku harus pergi. Aku tak bisa menunggumu lama. Aku harus pulang, ke alamku, di tempat di mana dulu kau menemuiku pertama kali. Ya, di lereng sana, di balik gunung penuh hutan belantara, di antara duri-duri alam aku menggantungkan diri, bertahan hidup. Sebelum kau datang.

Aku harus pergi, sayapku terluka, cahaya dalam sayapku tidak bersinar lagi. Aku bukan kunang-kunang. Aku hanya mirip seekor lalat yang terhempas badai. Mengenaskan.

Taoyuan, 21 Agustus 2015

Kamis, 13 Agustus 2015

Langit Tanpa Senja

Senjaku telah hilang, ditelan kegelapan dalam keheningan. Aku sendirian. Dalam gelap, aku merangkak, mencari seberkas sinar harapan. Senja tak lagi datang, tak lagi mendampingiku meniti setitik asa.

Tanpa senja aku gamang. Duduk mendekap lututku di atas pasir putih tempat senja yang dulu menyapa. Senjaku tak seindah dulu. Merahnya memudar, jingganya menghilang. Senja tak kan datang.

"Apa yang kamu tunggu, Linn?" sebuah suara membuyarkan lamunanku.

"Senja."

"Untuk apa? Dia tak akan datang, Linn. Hari ini mendung, sebentar lagi hujan, pulanglah. Senjamu tidak akan datang."

"Tapi aku merindukannya, Bu," jawabku.

"Pulanglah, Nak. Senjamu belum datang, mungkin esok, atau lusa, sabar, senja tahu kapan ia akan datang."

"Iya, Bu."

Aku beranjak pergi.
Meninggalkan langit tanpa senja lagi. Meninggalkan alam yang mulai diselimuti gelap. Aku melangkah dengan jiwa gamang. Aku meniti langkah dengan hati mengambang. Menanti senja tak kunjung tiba. Gerimis pun mulai menyapa, ditemani sapuan sang bayu yang memainkan anak rambutku yang mulai basah. Kupercepat jalanku, tak kupedulikan kerikil kecil yang mencoba menggangguku.

"Pulanglah, Nak," terngiang kembali kata-kata ibu.

"Aku pulang, Bu. Sekarang."

Aku berlari, mengejar waktu. Sesekali terjatuh di tepi jalan. Aku harus pulang. Mungkin hari ini senja tidak datang. Tapi esok? Masih ada sejuta harapan. Menikmati senja bersama seribu asa.

Taoyuan, 13 Agustus 2015

Jumat, 07 Agustus 2015

Aku Dan Aku

Dalam hidup tidak ada yang namanya kesempurnaan. Tidak akan ada manusia benar dalam segala hal. Yang benar adalah berusaha jadi orang dalam jalan kebenaran. Sebaik apapun kita, pembenci itu ada, dan itu pasti. Seburuk apapun kita, orang yang suka tetap ada walaupun cuma satu, dua orang saja.

Aku adalah aku, tetap menjadi diri sendiri. Baik dan buruknya aku hanya Dia yang tahu. Manusia hanya tahu aku, tanpa tahu siapa diriku. Jika semua orang menginginkan menjadi rembulan yang memancarkan sinar ke seluruh pelosok dunia? Maka aku akan tetap ingin menjadi lilin dalam keredupan. Kecil, sederhana tapi tetap mampu menyinari lorong-lorong kecil dalam ruangan tertutup. Aku adalah sebatang lilin dalam keremangan.

Hidup adalah perjalanan menuju keabadian. Ya, perjalanan. Dalam perjalanan tidak mungkin ada yang namanya berjalan mulus tanpa aral melintang. Bukankah kita berjalan pun terkadang tersandung? Pun dalam hidup. Tersandung masalah itu pasti. Asal kita tahu, masalah datang adalah bukti manusia masih bernyawa, dan bukti jika Allah itu peduli. Jika kita enggan tersandung masalah. Mati saja. Itu pun kalau Dia mengijinkan.

"Kak, bahagia itu apa?" Bima bertanya dengan polosnya.

Aku tahu itu jebakan, aku tahu dia lelaki cerdas. Atau mungkin dia ingin tahu cara pandangku memaknai arti bahagia? Entahlah.

"Asal ayah dan ibu bahagia, di sana sumber bahagiaku juga," jawabku dengan senyum.

Bima tersenyum.

Aku memalingkan wajahku, menatap lekat-lekat rembulan yang masih malu-malu menampakkan wujudnya. Rembulan yang indah.

"Kenapa Kak Mawar ingin seperti lilin? Tidak ingin seperti rembulan?"

Aku tersenyum getir mendengar pertanyaan Bima.

"Rembulan memang indah, Bima. Besar, bersinar, terang dan menakjubkan. Banyak orang bahkan hampir seluruh penduduk bumi pun akan bilang rembulan itu indah, semua orang memuja dan memuji rembulan, kan? Tapi aku tidak ingin. Kamu tahu kenapa? Karena aku tidak ingin dipuja dan dipuji, aku hanya ingin menjadi sebatang lilin yang akan menyinari lorong-lorong kecil di manapun itu. Selokan, belakang pintu rumah, bahkan bawah kolong ranjang, lilin pasti berguna setelah lampu. Tidak mungkin kamu membawa rembulan ke rumahmu untuk penerangan, bukan? Dan itu rembulan yang kamu kagumi, Bima. Bukan aku, yang hanya sebatang lilin dalam remang," jawabku tanpa menoleh sedikit pun.

"Lihat Bima, rembulan hampir menampakkan diri," ujarku kemudian.

"Indah ya, Kak."

"Ya, kamu suka?"

"Iya, aku suka rembulan."

"Aku harus pergi, Bima. Sekarang," kataku datar.

"Ke mana? Kak Mawar mau ke mana?"

"Bukankah sudah ada rembulan? Kau tidak akan lagi memerlukan sebatang lilin, Bima."

"Tapi, Kak ...."

"Aku tetaplah aku, Bima. Aku tidak akan bisa dan tidak akan mau menjadi orang lain. Aku tidak bisa. Karena aku adalah aku."

"Duduklah, nikmati rembulanmu, sampai jumpa, Bima."

Neilli, Taoyuan
07 Agustus 2015

Kamis, 06 Agustus 2015

Aku Bukan Senja

Aku adalah senja, ketika hadirku dirindukan banyak orang. Ketika lenyapku menyisakan kesedihan bagi dia yang peduli. Aku adalah senja jingga, sendiri menggantung di kaki langit, kesepian dan aku sendirian. Langit mulai gelap, menenggelamkanku dalam keremangan. Aku tenggelam.

Kau hadir bagaikan senja kedua, langit kedua dan malaikat kedua. Kau adalah cahaya dalam gelap, dian dalam remangku. Kau istimema.
Tapi kau tak bisa hadir terlalu lama, di sini bukan hidupmu, di sini bukan duniamu. Kamu adalah bayangan dalam kenyataan. Hadirmu adalah pemancing asa dalam jalanku. Kau terlalu sempurna.

"Aku memberimu nama Langit," bisikku lirih.

"Lalu, kamu adalah Lembayung Senja," jawabnya datar.

"Ya," jawabku.

"Tapi kamu bukan langit sungguhan. Kamu Langit, bukan langit," kataku yang membuatnya mengernyitkan dahi dan melipat tangan.

Aku berdiri, mengikat kembali rambut panjangku.

"Aku harus pergi."

"Ke mana? Lalu aku? Lalu kita?" tanyanya penuh tanda tanya.

"Apa? Kita? Tidak akan ada kita, yang ada hanya aku dan kamu, Langit."

Dia diam.
Aku diam.

Kuraih tangannya.

"Langit, aku bukan Senja. Pergilah, masih ada dan masih banyak senja yang berwarna jingga. Tapi bukan aku."

Aku melangkah pergi, meninggalkan seribu tanya dalam diri Langit. Langit pun mulai gelap, menghitam. Senja pun lenyap, tenggelam bersama tenggelamnya bayanganku di mata Langit.

Neilli, Taiwan
06 Agustus 2015